jump to navigation

Frasa Endosentris

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Penulisan Makalah

Ketika kita mempelajari bahasa Indonesia di SMP dan SMA, kita pasti pernah mempelajari frase, klausa, dan kalimat. Dalam ilmu Linguistik terdapat beberapa disiplin ilmu lainnya seperti, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dll. Untuk mempelajari frase, klausa, kalimat, dan wacana tersebut dibahas dalam Sintaksis. Sintaksis menurut Oscar (Keraf dalam Oscar, 1993:5), yaitu bagian-bagian dari kata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kaliamt dalam suatu bahasa. Tidak jauh berbeda, dengan pernyataan Oscar, Ramlan (1986:21) menyatakan bahwa istilah sintaksis barasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxis, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut syntax. Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Jadi dapat disimpulkan bahwa, Sintaksis ialah bagain dari ilmu linguistik yang membahas frasa, klausa, kalimat, dan wacana.

Frase dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu frase endosentris dan frase eksosentris. Frasa endosentris merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya (Ramlan, 1986:146), sedangkan frasa eksosentris ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan, 1986:146). Makalah ini akan membahas frase endosentris dan jenis-jenisnya, pengertian dari jenis-jenis frasa tersebut, dan perluasan aposisi selain subjek akan dibahas secara jelas.

  1. Masalah atau Topik Bahasan
  1. Apakah yang dimaksud dengan frase endosentris?
  2. Apa sajakah jenis-jenis frase endosentris?
  3. Apakah yang dimaksud dengan frase endosentris koordinatif?
  4. Apakah yang dimaksud dengan frase endosentris atributif?
  5. Apakah yang dimaksud dengan frase endosentris apositif?
  6. Dalam frase endosentris apositif, apakah hanya ada aposisi perluasan subjek saja?
  1. Tujuan Penulisan Makalah
  1. Untuk mengetahui pengertian frase endosentris.
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis frase endosentris.
  3. Untuk mengetahui pengertian frase endosentris koordinatif beserta penjelasannya.
  4. Untuk mengetahui pengertian frase endosentris atributif beserta penjelasannya.
  5. Untuk mengetahui pengertian frase endosentris apositif beserta penjelasannya.
  6. Untuk mengetahui perluasan aposisi selain subjek.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Frasa Endosentris

Menurut Oscar (1993), ’frase endosentris adalah frase yang berdistribusi paralel dengan intinya. Inti frase adalah salah satu unsure frase yang jenis katanya sama dengan frase tersebut’. Tidak berbeda jauh dengan Rusmadji, Chaer (2007) menyatakan bahwa ‘frase endosentris adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya’. Chaer (2009: 40) juga menambahkan bahwa yang dimaksud dengan frase endosentris adalah frasa yang hubungannya sangat erat, sehingga kedua unsurnya tidak dapat dipisahkan sebagai pengisi fungsi sintaksis. Pengertian lain yang serupa diungkapkan oleh Ramlan (1986:146) bahwa frase endosentris adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya.

Dari definisi frase endosentris yang dikemukakan oleh tiga ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa frase endosentris adalah frase yang mempunyai kesamaan distribusi dengan unsunya, baik keseluruhan unsurnya maupun hanya salah satu unsurnya.

  1. B. Jenis-Jenis Frasa Endosentris

Dalam menetapkan jenis frase endosentris ini, Ramlan, Oscar, dan Ba’dulu memiliki pendapat yang sama. Frase endosentris dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Frase endosentris koordinatif
  2. Frase endosentris atrtibutif
  3. Frase endosentris apositif

Jenis frase endosentris yang terdapat dalam sebuah kalimat dapat diketahui dengan mudah apabila karakter dari masing-masing frase endosentris tersebut telah diketahui.

  1. C. Frase Endosentris Koordinatif

’Hubungan koordinatif adalah hubungan yang menyatakan, bahwa konstituen-konstituen (unsur-unsur) pembentuk satuan yang lebih besar memiliki keudukan yang setara. Hubungan koordinatif yang lazim ditemukan dalam konstruksi frase adalah hubungan yang bersifat penambahan dan pemilihan’ (Putrayasa, 2007:6).

Menurut Oscar (1993), frasa endosentris koordinatif adalah frasa yang intinya mempunyai referensi yang berbeda-beda. Frase ini terdiri atas unsur-unsur yang setara dan kesetaraannya terlihat dari kemungkinan unsur-unsur tersebut itu dihubungkan oleh kata sambung dan atau atau.

Lebih jelas, Ramlan (1986:147) menyatakan bahwa frase endosentris terdiri atas unsur-unsur yang setara dan kesetaraanya itu dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur tersebut dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau.

Contoh:

rumah pekarangan       –    rumah dan pekarangan

suami istri                   –    suami dan istri

dua tiga (hari)           –       dua atau tiga (hari)

belajar atau bekerja

pembinaan dan pengembangan

Contoh lain frase endosentris koordinatif dalam kalimat adalah sebagai berikut:

Paman dan bibi sudah lama tidak megunjungi kami.

Kerbau, lembu, dan kambing adalah hewan piaraan.

Siapa yang harus pergi, saya atau Anda?

Dalam pembahasan frase ini, Oscar (1993) menambahkan bahwa frase yang tidak menggunakan kata penghubung disebut frase parataktis.

Contoh frase parataktis yaitu, hilir mudik, tutur sapa, putih bersih, anak cucu, ibu bapak, besar kecil, dsb.

  1. D. Frase Endosentris Atributif

Frase endosentris atributif (modifitatif) adalah frase yang terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara. Oleh karena itu, frase ini tidak mempunyai potensi untuk dihubungkan dengan kata hubung dan atau atau (Oscar, 1993). Menurut Ba’dulu (2005:58), frasa endosentris atributif hanya mengandung sati inti, yang dapat didahului atau diikuti oleh medifikator. Baik inti maupun modifikator dapat terdiri dari salah satu kelas kata, seperti nomina, verba, , numeralia, ajektiva, atau adverbia.

Contoh:

pembangunan lima tahun

sekolah inpres

buku baru

sedang belajar

sangat bangga

pekarangan luas

pintu merah

dapur kotor

Kata-kata yang dicetak miring dalam frase-frase diatas merupakan UP (unsur pusat), yakni unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting. Dalam frase diatas, kata-kata yang tidak dicetak miring merupakan atribut.

Contoh lain frase endosentris atributif dalam kalimat adalah sebagai berikut:

Anak nakal itu dihukum gurunya.

Sampai sekarang adik belum pulang.

Anak-anak itu akan memancing.

Cita-citanya tinggi sekali.

Hanya saya yang dipersalahkan.

Bukan dia yang menolong temanku itu.

Selalu saya yang ditugasi memimpin upacara.

Wanita itu membeli peniti dua lusin.

Rumah besar itu sudah dijual.

Kata-kata yang bergaris bawah merupakan satu frase endosentris atributif, sedagkan atribut pada frase-frase diatas ditulis miring.

  1. E. Frase Endosentris Apositif

Frasa endosenttris apositif merupakan frasa yang berinti dua dan kedua inti itu tidak mempunyai referen yang sama, sehingga kedua inti tersebut tidak dapat dihubungkan oleh konektor (Ba’dulu 2005:59). Putrayasa (2007:8) menyatakan bahwa hubungan apositif adalah hubungan yang menjelaskan sekaligus dapat berperan sebagai pengganti bagian yang dijelaskan. Oscar (1993) menambahkan bahwa unsur-unsur frase ini tidak  dapat dihubungkan dengan kata dan atau atau dan secara semantis unsur yang satu sama dengan yang lainnya.

Contoh:

Yogya, kota pelajar

Indonesia, tanah airku

Bapak Soeharto, Presiden RI

Kami, rakyat Indonesia

Ali, tetangga saya

Contoh lain frase endosentris apositif dalam kalimat adalah sebagai berikut:

Ahmad, anak Pak Sastro itu sedang belajar.

Si Inem, pelayan seksi itu dimarahi majikannya.

Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, akan meletus.

Kita, orang awam ini tidak perlu campur tangan urusan negeri.

Kita, Bangsa Indonesia terkenal ramah tamah.

  1. F. Perluasan dengan Aposisi

Pada pembahasan frase endosentris apositif, contoh frase yang digunakan adalah aposisi subjek. Memang penggunaan frase endosentrtis apositif pada umumnya seperti contoh diatas. Namun, menurut Putrayasa (2009:24), perluasan aposisi tidak hanya terdapat pada subjek saja, tetapi juga pada predikat dan objek. Berikut ini adalah contoh aposisi subjek, aposisi predikat, dan aposisi objek.

  1. Contoh aposisi subjek

a)      Made Ayu, putri tunggalnya sudah lulus ujian bidan.

b)      Tanaka, Perdana Menteri Jepang, pernah berkunjung ke Indonesia.

c)      Rudy Hartono, pemegang supremasi bulu tangkis tingkat internasional, pernah menjadi pemain film.

2.   Contoh aposisi predikat

Bala bantuannya tiga kompi, pasuka gerak cepat dipimpin seorang kapten. (P= kata bilangan)

3.   Contoh aposisi objek

Jawaban kilat itu dikirimkan kepada nahkoda, seorang nelayan tua itu. (Aposisi objek berkepentingan)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: